Selasa, Mac 31, 2009

Why She Won't Wear Hijab!

Why She Won't Wear Hijab!
A Discussion by A.Q. Alidost

A convesation for Muslim sisters:

"I'm so tired."

"Tired of what?"

"Of all these people judging me."

"Who judged you?"

"Like that woman, every time I sit with her, she tells me to wear hijab."

"Oh, hijab and music! The mother of all topics!"

"Yeah! I listen to music without hijab…haha!"

"Maybe she was just giving you advice."

"I don't need her advice. I know my religion. Can`t she mind her own business?"

"Maybe you misunderstood. She was just being nice."

"Keeping out of my business, that would be nice..."

"But it's her duty to encourage you do to good."

"Trust me. That was no encouragement. And what do you mean `good` ?"

"Well, wearing hijab, that would be a good thing to do."

"Says who?"

"It's in the Qur'an, isn't it?"

"Yes. She did quote me something."

"She said Surah Nur, and other places of the Qur'an."

"Yes, but it's not a big sin anyway. Helping people and praying is more important."

"True. But big things start with small things."

"That's a good point, but what you wear is not important. What's important is to have a good healthy heart."

"What you wear is not important?"

"That's what I said."

"Then why do you spend an hour every morning fixing up?"

"What do you mean?"

"You spend money on cosmetics, not to mention all the time you spend on fixing your hair and low-carb dieting."


"So, your appearance IS important."

"No. I said wearing hijab is not an important thing in religion."

"If it's not an important thing in religion, why is it mentioned in the Holy Qur'an?"

"You know I can't follow all that's in Qur'an."

"You mean God tells you something to do, you disobey and then it's OK?"

"Yes. God is forgiving."

"God is forgiving to those who repent and do not repeat their mistakes."

"Says who?"

"Says the same book that tells you to cover."

"But I don't like hijab, it limits my freedom."

"But the lotions, lipsticks, mascara and other cosmetics set you free?!

What`s your definition of freedom anyway?"

"Freedom is in doing whatever you like to do."

"No. Freedom is in doing the right thing, not in doing whatever we wish to do."

"Look! I've seen so many people who don't wear hijab and are nice people, and so many who wearhijab and are bad people."

"So what? There are people who are nice to you but are alcoholic. Should we all be alcoholics? You made a stupid point."

"I don't want to be an extremist or a fanatic. I'm OK the way I am without hijab."

"Then you are a secular fanatic. An extremist in disobeying God."

"You don't get it, if I wear hijab, who would marry me?!"

"So all these people with hijab never get married?!"

"Okay! What if I get married and my husband doesn't like it? And wants me to remove it?"

"What if your husband wants you to go out with him on a bank robbery?!"

"That's irrelevant, bank robbery is a crime."

"Disobeying your Creator is not a crime?"

"But then who would hire me?"

"A company that respects people for who they are."

"Not after 9-11"

"Yes. After 9-11. Don't you know about Hanan who just got into med school?

And the other one, what was her name, the girl who always wore
a white hijab…ummm…"


"Yes. Yasmeen. She just finished her MBA and is now interning for GE."

"Why do you reduce religion to a piece of cloth anyway?"

"Why do you reduce womanhood to high heals and lipstick colors?"

"You didn't answer my question."

"In fact, I did. Hijab is not just a piece of cloth. It is obeying God in a difficult environment. It is courage, faith in action, and true womanhood.

But your short sleeves, tight pants…"

"That's called `fashion`, you live in a cave orsomething? First of all, hijab was founded by men who wanted to control

"Really? I did not know men could control women by hijab."

"Yes. That's what it is."

"What about the women who fight their husbands to wear hijab? And women in France who are forced to remove their hijab by men? What do you say about that?"

"Well, that's different."

"What difference? The woman who asked you to wear hijab…she was a woman, right?"

"Right, but…"

"But fashions that are designed and promoted by male-dominated corporations, set
you free? Men have no control on exposing women and using them as a commodity?! Give me a break!"

"Wait, let me finish, I was saying…"

"Saying what? You think that men control women by hijab?"


"Specifically how?"

"By telling women how and what to wear, dummy!"

"Doesn't TV, magazines and movies tell you what to wear, and how to be `attractive'?"

"Of course, it's fashion."

"Isn't that control? Pressuring you to wear what they want you to wear?"


"Not just controlling you, but also controlling the market."

"What do you mean?"

"I mean, you are told to look skinny and anorexic like that woman on the cover
of the magazine, by men who design those magazines and sell those products."

"I don't get it. What does hijab have to do with products."

"It has everything to do with that. Don't you see? Hijab is a threat to consumerism,
women who spend billions of dollars to look skinny and live by standards of fashion designed by men…and then here is Islam, saying trash all that nonsense and focus on your soul, not on
your looks, and do not worry what men think of your looks."

"Like I don't have to buy hijab? Isn't hijab a product?"

"Yes, it is. It is a product that sets you free from male-dominated consumerism."

"Stop lecturing me! I WILL NOT WEAR HIJAB!

It is awkward, outdated, and totally not suitable for this society ... Moreover, I am only 20 and too young to wear hijab!"

"Fine. Say that to your Lord, when you face Him on Judgment Day."




"Shut up and I don't want to
hear more about hijab niqab schmijab Punjab!"


She stared at the mirror,
tired of arguing with herself all this time

Successful enough, she managed to shut the voices in her head, with her own opinions triumphant
in victory on the matter, and a final modern decision accepted by the society - but rejected by the Faith:

"Yes!" - to curls on the hair - "No!" - to hijab!

"And he(/she) is indeed a failure who corrupts it [the soul]!"

[Holy Quran 91:10]


"Nay! You
prefer the life of this world; While the hereafter is better and
more lasting."

[Holy Quran:

"You are the best
community (Ummah) raised up for (the benefit of) humanity; enjoining what is right and forbidding what is wrong and believing in Allah."

[Holy Quran: 3:110]

Isnin, Mac 30, 2009

Ya! Andalah orang nya!

"Ya! Andalah orang nya yang layak untuk terima ujian/musibah/masalah yang sedang melanda diri anda!"

Setuju tak?Moh renung --> Tidak ALLAH taklifkan satu nyawa itu kecuali dalam penguasaannya. Bak kata Prof Izzi. "Renung-renungkan..dan selamat beramal" =)

Ok, jom lebih empati, cakap memang senang, bak kata pepatah, "Berat mata memandang, berat lagi bahu memikul", betul, semua pun mengakui merasai tekanan apabila ditimpa ujian hidup/ masalah hidup apatah lagi musibah.

Tapi bila direnung kembali keadaan kita yang merasai tertekan itu, bukankah tekanan itu sebenarnya satu nikmat?Haa, macam mana tu?

Ok, dengan merasai tertekan, pertamanya ia merupakan bukti kita masih lagi manusia normal yang masih lagi memiliki nikmat akal yang waras, hanya akal yang waras akan "membenarkan" perasaan tertekan. Setuju?

Yang keduanya pula, apabila merasai tertekan, kita secara sendirinya akan cuba menghilangkan perasaan kurang selesa (tertekan) itu. Ada pelbagai cara, dan cara yang paling bodoh adalah cara yang memandulkan fungsi akal, tapi sebagai insan yang mahu cemerlang pastinya kita mahu fungsi akal kita dimanfaatkan, betul?

Antara langkah awal untuk menguruskan perasaan tertekan adalah dengan membolehkan akal kita yang menguasai tindakan kita, iaitu kita kena kurangkan dulu perasaan tertekan itu, kerana perasaan tertekan yang melampau akan mengabaikan fungsi akal, hanya menggunakan logik emosi.

Antara cara terbaik untuk mengurangkan rasa tertekan itu adalah dengan berkongsi dengan seseorang berkenaan masalah yang dihadapi.Ada tulisan awal saya dahulu, klik

Juga sebaiknya mengadu pada ALLAH 'azza wa jall, boleh diamalkan doa ketika ditimpa musibah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w kepada Ummu Salamah r.ha yang kematian suaminya Abu Salamah r.a, tetapi maksudnya yang umum membolehkan kita membacanya dalam apa jua musibah yang menimpa.

Terjemahan doa itu adalah :

Sesungguhnya kita milik ALLAH dan kepadaNya kita kembali.Ya ALLAH! Berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantilah aku dengan lebih baik (daripada musibahku). -riwayat Muslim no.918

Berkat beramal doa ini, Ummu Salamah r.ha. akhirnya diperisterikan Nabi s.a.w. Amalkan membaca doa ini apabila ditimpa ujian.Mudah-mudahan kita dianugerahkan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapinya.

Rujukan doa : m/s 107 Buku 101 Doa daripada Hadis-Hadis Sahih oleh Ustaz Zahazan Mohamed

Ataupun boleh juga diamalkan terjemahan doa oleh Nabi Yunus a.s ketika berada di dalam perut ikan:
"Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau (Ya ALLAH)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya,tolonglah daku)! Sesungguhnya aku adalah daripada orang yang menganiaya diri sendiri" - ayat 87 surah al-Anbiya'

Menurut sebuah hadis sahih riwayat al-Tirmizi, Nabi s.a.w menyatakan yang bermaksud :

"Sesungguhnya tiada seorang Muslim pun memanjatkan doa ini dalam apa keadaan sekalipun, melainkan ALLAH akan memperkenankannya"
Rujukan doa dan hadis : m/s 164 Buku 101 Doa daripada Hadis-Hadis Sahih oleh Ustaz Zahazan Mohamed.

Doa saja cukup kah? Sesungguhnya yang akan menentukan kita cemerlang atau tidak semua bergantung kepada kita kan? Cuma sebagai hamba ALLAH yang mengakui tiada daya dan kekuatan melain dengan izin ALLAH maka kita perlu berdoa.Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah nasib sesuatu kaum, sehinggalah kaum itu mengubah sendiri nasibnya.

Ada orang kata perubahan perlu dari dalam,dari inside - out kata pakar motivasi. Selalu lah berikan kata-kata positif kepada diri moga hati menjadi kuat untuk berfungsi sebagai raja dalam diri kemudiannya akan mengarahkan anggota lain badan untuk bertindak!

Masalah anda adalah sememangnya untuk anda kerana hanya anda mampu untuk mengurus dan seterusnya mengatasi masalah tersebut. =)

Selasa, Mac 17, 2009



Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

Setiap pasangan suami isteri pasti akan mengimpikan satu kehidupan yang bahagia dan harmoni. Setiap suami juga pasti mengidamkan seorang wanita solehah yang merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia.

Sabda Nabi s.a.w:

"Dunia itu penuh dengan kenikmatan dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah isteri yang solehah." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1467.

Namun begitu, apa yang sering dicanangkan adalah peranan isteri untuk membentuk keluarga yang harmoni, bagaimana isteri patut taat kepada suami, apakah balasan bagi isteri yang derhaka, apakah balasan terhadap isteri yang menolak pelawaan suami untuk bersetubuh dan tugas-tugas isteri untuk membahagiakan suami. Hanya sekali-sekala diketengahkan perbahasan tentang apa yang suami perlu lakukan untuk membina sebuah keluarga yang dihiasi dengan perasaan cinta (mawaddah) dan kasih-sayang (rahmah).

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa DIA menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki) isteri-isteri dari jenis kamu sendiri supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikan-NYA antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang serta belas kasihan. Sesungguhnya demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir." - Surah al-Ruum: 21.

Suami sememangnya telah diperintahkan oleh ALLAH untuk melayan isteri dengan penuh kebaikan.

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan bergaulah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik." – Surah al-Nisa’: 19.

Melalui buku ini, marilah kita menelusuri sunnah Nabi s.a.w tentang peranan suami dalam usaha membentuk hubungan yang penuh mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) bersama isteri.

Melayani Isteri Dengan Baik

Seorang suami wajib melayani isterinya dengan perilaku yang baik dan menuruti kehendak isteri dalam perkara yang sesuai dengan syarak. Terdapat begitu banyak nas yang menunjukkan kewajipan ini.

Rasulullah s.a.w bersabda:

"Sesungguhnya orang yang paling baik antara kamu semua adalah orang yang paling baik terhadap isterinya dan aku adalah orang yang terbaik antara kamu semua (dalam membuat kebaikan) terhadap isteriku." - Hadis riwayat al-Tirmizi di dalam Sunan al-Titmidzi, kitab al-Manaqib, hadis no: 3830.

Rasulullah s.a.w bersabda:

"Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya antara mereka dan yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri-isterinya." - Hadis riwayat al-Tirmizi di dalam Sunan Tirmizi, hadis no: 1082.

Para suami juga dituntut berlaku adil terhadap isterinya dengan menunaikan segala haknya dalam semua perkara yang selari dengan syarak.

Firman ALLAH S.W.T:

"Sesungguhnya ALLAH menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan, serta memberi bantuan kepada kaum kerabat, melarang daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar serta kezaliman. DIA mengajar kamu (dengan suruhan dan larangan-NYA ini) supaya kamu mengambil peringatan mematuhi-NYA." – Surah al-Nahl: 90.

Bagi suami yang berlaku adil terhadap isterinya maka ganjaran ALLAH di hari akhirat nanti begitu besar sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w:

"Orang-orang yang berlaku adil di sisi ALALH nanti akan ditempatkan di atas mimbar-mimbar yang diperbuat dari cahaya dari sebelah kanan al-Rahman 'Azza wa Jalla (ALLAH) lalu Nabi mengangkat tangan kanan-NYA. Orang-orang yang termasuk golongan itu (sebelah kanan Nabi) adalah orang yang adil dalam pemerintahannya, adil terhadap isterinya dan tidak menyimpang." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1827.

Lelaki merupakan pemimpin bagi wanita sebagaimana firman ALLAH S.W.T:

"Kaum lelaki itu adalah pemimpin terhadap kaum perempuan." – Surah al-Nisa’: 34.

Walaupun ALLAH telah menetapkan bahawa suami adalah pemimpin bagi keluarganya namun ia bukan menjadi 'lesen' bagi para suami untuk bersikap seperti seorang diktator, zalim, sombong serta berkeras terhadap isteri-isteri mereka.
Kekuasaan yang diberi oleh ALLAH itu sebenarnya menuntut sikap bertanggungjawab, kebijaksanaan, adil, sabar dan mampu untuk mengendali segala permasalahan atau bebanan yang timbul dalam rumahtangga. Dalam erti kata lain, status kepimpinan suami itu adalah dalam rangka untuk merealisasikan perintah ALLAH bagi melayan kaum wanita atau isteri dengan sebaik mungkin.

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan bergaulah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik." – Surah al-Nisa’: 19.

Memberi Nafkah Zahir Yang Sempurna Mengikut Kemampuan

Sudah menjadi kewajipan bagi seorang suami memberi nafkah untuk ahli keluarganya berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan segala keperluan isteri yang tidak bercanggah dengan syarak.

Firman ALLAH S.W.T:

"Kaum lelaki itu adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan kerana ALLAH telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) berbanding kaum wanita dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka." – Surah al-Nisa’: 34.

Kadar pemberian nafkah ini adalah mengikut kemampuan seorang suami dan suami tidak sepatutnya membebankan dirinya melebihi dari kemampuannya yang sebenar.

Firman ALLAH S.W.T:

"Orang yang mampu memberi nafkah hendaklah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang di sempitkan rezekinya, maka dia hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan ALLAH kepadanya (sekadar yang mampu). ALLAH tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan ALLAH kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) ALLAH akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan." – Surah al-Talaq: 7.

Seorang sahabat bernama Hakim bin Mu’awiyyah bin Hidah al-Qusyairi r.a pernah mendengar ayahnya berkata bahawa dia pernah bertanya kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah! Apakah hak isteri kami ke atas suami? Rasulullah bersabda: Memberinya makan apabila kamu makan, memberinya pakaian apabila kamu berpakaian.” - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 1830.

Memberi nafkah kepada isteri serta keluarga mempunyai keutamaan yang besar di sisi ALLAH.

Sabda Nabi s.a.w:

"Dinar (wang) yang engkau infakkan (belanjakan) di jalan ALLAH, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan hamba abdi, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, pahala yang paling besar adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 995.

Sabda Nabi s.a.w:

"Tiada pekerjaan yang lebih baik daripada seorang lelaki yang bekerja dengan tangannya sendiri dan tiada infak yang lebih baik daripada seseorang memberikan nafkah untuk diri dan keluarganya, anaknya, pembantunya dan semua itu dihitung sebagai sedekah baginya." - Hadis riwayat Ibn Majah di dalam Sunan Ibn Majah, hadis no: 2129.

Adalah suatu kezaliman yang besar bagi seorang suami yang memiliki kemampuan dari segi ekonominya tetapi bersifat bakhil terhadap isteri dan keluarganya. Apatah lagi sifat bakhil merupakan sifat yang dicela oleh ALLAH dan Rasul-NYA.

Sabda Nabi s.a.w:

"Seburuk-buruk sifat yang ada kepada seseorang adalah bakhil dan penakut." - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 2150.

Bagi isteri yang mempunyai suami bersikap bakhil, maka dibenarkan baginya untuk mengambil harta suami tanpa pengetahuannya sekadar untuk memenuhi keperluan kehidupan seluruh ahli keluarga.
Hindun bin ‘Utbah bin Rabi’ah pernah datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata:

"Wahai Rasulullah! Abu Sufyan adalah seorang suami yang kedekut. Bolehkah apabila aku mengambil sebahagian hartanya untuk keperluan keluarga kami? Rasulullah bersabda: Tidak mengapa apabila engkau mengambil sesuai keperluanmu dengan cara yang makruf.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 2460.

Dengan cara yang makruf bermaksud pengambilan harta tersebut tidak berlebih-lebihan dan tidak merosakkan harta suaminya. Oleh itu, para suami hendaklah benar-benar prihatin terhadap kewajipan memberi nafkah buat ahli keluarganya. Apatah lagi ALLAH telah melebihkan kaum lelaki berbanding kaum wanita dengan beberapa keistimewaan.
Adakah layak bagi seorang suami untuk mendapat keistimewaan ini sekiranya dia tidak menjalankan kewajipan mencari nafkah dan bergantung kepada harta isteri walaupun mereka mampu bekerja?

Sesungguhnya lelaki yang merdeka dan mulia adalah mereka yang membina keluarga mereka hasil keringatnya sendiri dan tidak hanya bergantung kepada harta isterinya.
Suami yang bergantung kepada harta isteri bukan sekadar telah lari daripada tanggungjawabnya tetapi juga mencerminkan kepimpinannya yang lemah. Malaikat juga akan melaknat para suami yang tidak menafkahkan hartanya kepada ahli keluarganya.

Sabda Nabi s.a.w:

"Tidaklah para hamba berada di waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berdoa: Ya ALLAH! Berikanlah kepada orang yang menafkahkan hartanya balasan yang lebih baik. Sedangkan malaikat yang lain berdoa: Ya ALLAH! Berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (tidak mahu menafkahkannya).” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 1442.

Sabda Nabi s.a.w:

"Cukuplah seseorang itu dianggap berdosa apabila suami yang mensia-siakan orang yang menjadi tanggungannya." - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 1442.

Melayani Keperluan Seks Isteri

Sebagaimana pentingnya suami memenuhi keperluan material isterinya, sudah menjadi tanggungjawabnya melayani keperluan batin isteri. Kebiasaannya wanita memiliki sifat pemalu terutamanya untuk berbincang tentang kehendak seksualnya. Namun, sebenarnya mereka juga berkehendakkan kepada nikmat kepuasan ketika melakukan persetubuhan (berjimak) sebagaimana suami.

Menurut Anas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w telah bersabda:

"Jika seseseorang antara kamu melakukan hubungan kelamin dengan isterinya, dia hendaklah bersungguh-sungguh. Apabila dia hendak menyelesaikan hajatnya itu (mencapai kepuasan) sedangkan isterinya belum sampai klimaksnya, maka janganlah dia tergesa-gesa (untuk menamatkan persetubuhan tersebut) sehingga hajat isterinya diselesaikan pula." - Hadis riwayat al-Suyuthi di dalam Jami’ al-Saghir, hadis no: 549 dan al-Hafiz al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawaid, hadis no: 7566.

Oleh itu, para suami hendaklah menjaga perasaan isteri ketika berjimak dan melakukannya dengan niat agar kedua-dua belah pihak mencapai kenikmatan. Janganlah para suami hanya memikirkan kepuasan diri sendiri tanpa memastikan isteri mereka juga sudah mencapai klimaks.

Hal ini amat penting kerana jika seorang suami tidak prihatin terhadap permasalahan ini ia boleh menimbulkan kesan negatif seperti isteri membenci suaminya, melalaikan perintahnya ataupun menolak apabila diajak untuk berjimak dan sekiranya bersetuju pun ia tidak dilakukan dengan sepenuh kerelaan hati. Mungkin ada yang merasakan ini suatu perkara yang terlalu remeh untuk diperbincangkan. Tetapi, di dalam Islam berjimak adalah termasuk perkara yang boleh mendatangkan pahala.

Sabda Rasulullah s.a.w:

"Dan pada hubungan kelamin kamu semua (bersama isteri) merupakan sedekah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Apakah jika seseorang kami mendatangi isterinya (untuk berjimak) maka dia mendapat pahala? Rasulullah menjawab: Bagaimana pendapat kamu semua jika dia menyalurkan syahwatnya ke jalan yang haram, (sudah tentu) dia akan mendapat dosa kerananya. Demikian juga jika dia menyalurkan di jalan yang halal, pasti dia mendapat pahala.” - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no:1006.

Oleh itu, pastikan para suami dan isteri berkomunikasi sesama sendiri untuk sama-sama mendapat kenikmatan dari hubungan kelamin tersebut.

Suami Hendaklah Bersikap Romantik Terhadap Isterinya

Para suami hendaklah sering mencium isterinya. Budaya ini memang agak asing bagi masyarakat di nusantara. Namun, Nabi s.a.w sering mengucup isteri dengan penuh rasa kasih sayang. Rasulullah s.a.w pernah mencium isterinya sebelum pergi menunaikan solat di masjid.

Aishah r.a berkata:

"Rasulullah pernah mencium salah seorang isteri baginda, lalu berangkat menunaikan solat tanpa memperbaharui wuduk." - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 153.

Justeru, apa lagi yang menghalang kita untuk mencium isteri kita setidak-tidaknya sebelum pergi atau pulang dari tempat kerja atau dalam apa jua kesempatan yang ada? Adakalanya si suami langsung tidak memandang wajah isterinya yang mengiringinya ke pintu rumah ketika suaminya hendak keluar ke tempat kerja. Ciumlah isteri kamu wahai para suami! Ikutlah sunnah Nabi s.a.w.

Rasulullah s.a.w merupakan seorang insan yang begitu romantis terhadap isteri-isterinya hinggakan baginda selalu mandi bersama dengan isterinya.

Aisyah r.a berkata:

"Aku biasa mandi berdua-duaan bersama Rasulullah s.a.w menggunakan satu bekas air." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 250.

Baginda sering memanggil isterinya dengan panggilan yang indah serta disukai oleh isterinya. Baginda memanggil Aisyah r.a dengan gelaran Humaira’ yang bermaksud putih kemerah-merahan bertujuan memuji kecantikannya. Nabi juga memanggil Aisyah dengan nama yang digemarinya iaitu Aisyah. Aisyah menceritakan bahawa pada suatu hari Rasulullah berkata kepadanya:

"Wahai Aisyah! Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 3217.

Aisyah r.a juga pernah menggambarkan betapa romantis baginda s.a.w sebagaimana riwayat berikut:

"Suatu ketika aku telah minum. Ketika itu aku sedang haidh lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan baginda meminumnya dari kesan mulutku di gelas itu. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas aku memberikan baginda potongan daging itu dan baginda memakannya tepat di tempat aku memakannya." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 300.

Walaupun perkara-perkara ini nampak kecil, namun ia amat membahagiakan Aisyah sehingga dia sentiasa terkenangkan sikap-sikap romantis baginda s.a.w ini. Perkara-perkara sebegini sepatutnya diusahakan oleh para suami untuk dipraktikkan terhadap isteri-isteri mereka yang tercinta kerana adakalanya perkara yang kecil di mata suami tetapi ia amat besar menurut pandangan isteri.

Masih banyak lagi sifat-sifat romantis yang terdapat dalam hadis-hadis baginda. Oleh itu, marilah kita berusaha menjadi seorang suami yang romantis dalam rangka mencontohi sifat Nabi s.a.w.

Suami Hendaklah Bergurau Senda Dengan Isteri

Hidup tanpa gurau senda dan tawa riang pasti akan membosankan. Namun, ia hendaklah dilakukan sesuai dengan suasana serta tuntutan syarak dan tidak berlebih-lebihan.

Sabda Rasulullah s.a.w:

"Setiap perkara yang tidak disertakan padanya nama ALLAH maka ia akan menjadi sia-sia (lagha), senda-gurau serta main-main kecuali empat perkara. Suami yang bercanda dengan isterinya, seorang yang melatih kudanya, seorang yang sedang memilih antara dua sasaran dan seorang yang berlumba dalam sukan renang." - Hadis riwayat al-Suyuthi di dalam al-Jami’ al-Saghir, hadis no: 2312.

Ternyata Rasulullah s.a.w juga sering bergurau-senda dengan para isterinya. Sebagai contoh, Aisyah r.a telah berkata:

"Rasulullah berlumba lari denganku, maka aku menang ketika itu kerana aku belum gemuk. Kemudian, setelah gemuk aku berlumba lari dengannya, maka baginda memenanginya. Lalu baginda bersabda: Kemenangan ini sebagai penebus kekalahan yang lalu.” - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 2214.

Juga telah diriwayatkan daripada Aishah r.a bahawa Nabi s.a.w pernah membawanya menyaksikan permainan para sahabat yang berasal dari Sudan. Katanya:

"Hari itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan bermain pedang dan perisai. Aku (Aishah r.a) tidak ingat apakah aku yang meminta untuk melihatnya atau Rasulullah s.a.w yang berkata: Apakah kamu ingin melihatnya? Aku pun menjawab: Ya. Aku disuruhnya berdiri di belakangnya di mana pipiku bersentuhan dengan pipi baginda. Baginda berkata: Biar yang lain wahai Bani Arfidah! Ketika aku merasa bosan, baginda bertanya kepadaku: Adakah engkau sudah puas? Aku menjawab: Ya. Baginda pun bersabda: Pergilah.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 950.

Nabi s.a.w juga membenarkan nyanyian yang sesuai dengan syarak dilagukan di rumah Aishah r.a.

Aisyah r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w masuk ke rumahku (pada hari raya) dan ketika itu aku bersama dua budak perempuan yang sedang menyanyikan lagu peperangan Bu’ats. Baginda langsung berbaring di atas tempat tidur sambil memalingkan wajahnya." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 949.

Oleh itu, wahai suami! Bercandalah dengan isterimu. Jangan biarkan suasana di rumah anda menjadi bosan dan muram.

Suami Hendaklah Meluangkan Masa Bersama Isteri

Walau sesibuk sekalipun mengurus tugasan hariannya, suami tetap perlu berusaha meluangkan waktu bersama isterinya. Kadangkala, kesibukan suami di luar rumah dengan kegiatan-kegiatan lain disamping mencari nafkah menyebabkan dia mengabaikan peranannya sebagai suami. Dia lupa bahawa isterinya memerlukan belaian manja seorang suami untuk menghiburkan hatinya.
Adakalanya setelah penat dengan aktiviti di luar rumah suami hanya pulang dengan wajah yang kelesuan, tidak bermaya dan hanya menantikan disorong bantal untuk melelapkan mata. Yang lebih perit adalah apabila suami membawa masalah-masalah dari luar dan melepaskan geramnya terhadap isteri. Wahai para suami! Ingat Firman ALLAH S.W.T:

"Dan bergaulah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik." – Surah al-Nisa’: 19.

Nabi s.a.w juga pernah menasihati para sahabat r.a agar jangan terlalu menyibukkan diri dengan ibadah sehingga mengabaikan tanggungjawab melayani isteri dengan baik.

Sabda Nabi s.a.w:

"Wahai Abdullah (bin ‘Amr bin al-Ash r.a)! Adakah benar apa yang diceritakan kepadaku sesungguhnya engkau telah berpuasa setiap hari dan solat sepanjang malam? Aku (Abdullah bin ‘Amr) berkata: Benar wahai Rasulullah. Baginda bersabda: Jangan kamu lakukan begitu. Berpuasalah dan tinggalkan (tidak berpuasa) serta solat dan tidurlah kerana sesungguhnya badan kamu mempunyai hak ke atas kamu, kedua-dua mata kamu mempunyai hak ke atas kamu, isteri kamu mempunyai hak ke atas kamu dan tetamu kamu mempunyai hak ke atas kamu. Cukuplah bagi kamu berpuasa tiga hari setiap bulan dan sesungguhnya setiap kebaikan akan dibalas untukmu sebanyak sepuluh kali ganda yang sepertinya. Jika kamu melakukan begitu, ia seperti berpuasa sepanjang masa.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no 1975.

Oleh itu, walau sesibuk mana sekalipun para suami dengan tugasan di luar sama ada urusan mencari nafkah mahupun aktiviti dakwah, para isteri tetap berhak mendapat perhatian serta belaian manja daripada para suami.

Membina Suasana Ibadah Dalam Rumahtangga

Suasana yang harmonis hanya dapat dibentuk dengan bimbingan taufik dan hidayah daripada ALLAH. Oleh itu, salah satu faktor utama dalam pembinaan keluarga bahagia adalah membentuk sebuah rumahtangga yang sentiasa dihiasi dengan amal ibadah dan penuh dengan keimanan serta ketakwaan.

Firman ALLAH S.W.T:

"Sesiapa yang beramal soleh daripada kalangan lelaki atau perempuan sedang dia beriman, sesungguhnya KAMI akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sesungguhnya KAMI akan membalas mereka dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan." – Surah al-Nahl: 97.

Para suami hendaklah sentiasa menganjurkan para isteri beribadah bersamanya seperti mengerjakan solat tahajjud, berpuasa sunat, bertadarus (membaca) serta mentadabbur (memahami) al-Quran dan belajar tentang hal-hal keagamaan yang boleh meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Rasulullah s.a.w sentiasa menganjurkan para isterinya agar mengerjakan ibadah sesuai dengan perintah ALLAH S.W.T:

"Dan perintahkanlah keluargamu (serta umatmu) mengerjakan solat dan engkau hendaklah tetap bersabar menunaikannya. KAMI tidak pernah meminta rezeki kepadamu, (bahkan) KAMIlah yang memberi rezeki kepadamu. Dan (ingatlah) kesudahan yang baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa." - Surah Toha: 132.

Aisyah r.a berkata:

"Rasulullah biasa mengerjakan solat malam (tahajjud) sementara aku tidur melintang di hadapan baginda. Bila baginda ingin mengerjakan solat witir, baginda akan mengejutkan aku." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 512.

Rasulullah s.a.w. juga telah bersabda:

"Semoga ALLAH merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan solat malam lalu membangunkan isterinya untuk solat bersama. Apabila si isteri enggan (tidak mampu untuk bangun), dia akan memercikkan air ke wajah isterinya (supaya bangun). Semoga ALLAH merahmati seorang isteri yang bangun malam hari untuk mengerjakan solat malam lalu membangunkan suaminya untuk solat bersama. Apabila si suami enggan, dia memercikkan air ke wajah suaminya.” - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Daud, hadis no: 1113.

Ssewajarnya para suami menghidupkan rumah mereka dengan pelbagai amal ibadah yang sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Disamping itu, suami isteri juga hendaklah berusaha untuk saling memperingatkan antara satu sama lain agar bersama-sama dapat melaksanakan segala perintah ALLAH sebagaimana yang termaktub di dalam al-Quran dan sunnah serta meninggalkan segala larangan-NYA.

Mereka hendaklah berganding bahu menegakkan kebenaran di dalam rumahtangga mereka, berusaha membentuk suasana yang islamik berteraskan kasih sayang dan kecintaan dan suasana yang harmoni. Saranan ini sesuai dengan Firman ALLAH S.W.T:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya ialah manusia dan batu (berhala); neraka itu dijaga dan dikawal oleh malaikat-malaikat yang keras lagi kasar (layanannya); mereka tidak pernah derhaka kepada ALLAH dalam setiap perkara yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan." – Surah al-Tahrim: 6.

Suami Hendaklah Sentiasa Menunjukkan Wajah yang Ceria

Raut wajah seseorang boleh menggambar pelbagai makna dan ia boleh mempengaruhi suasana hubungan suami isteri. Wajah yang ceria tentu sekali akan menenangkan jiwa isteri. Janganlah masalah di tempat kerja di bawa pulang ke rumah sehingga menunjukkan air muka yang merengut. Apatah lagi telah tsabit perintah daripada Nabi s.a.w agar kita sentiasa mempamerkan wajah yang ceria sebagaimana sabdanya:

"Janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik walau sedikit walau hanya menampakkan wajah ceria ketika berjumpa dengan saudaramu." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 2626.

Lanjutan dari hadis di atas tentu sekali apa yang paling utama bagi suami adalah menunjukkan wajah ceria kepada isteri tercinta.

Suami Hendaklah Menjaga Penampilan Diri

Di samping mempamerkan wajah yang ceria, para suami juga hendaklah menjaga penampilan diri agar sentiasa kelihatan menarik dan bersih. Ini adalah penting demi menimbulkan keselesaan dalam hubungan suami isteri. Sesungguhnya isteri juga ingin melihat pasangannya memiliki penampilan yang menarik sebagaimana suami inginkan isteri yang anggun lagi bergaya.

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan isteri-isteri itu mempunyai hak yang sama seperti kewajipan yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang sepatutnya (dan tidak dilarang oleh syarak)." – Surah al-Baqarah: 228.

Ibn Abbas r.a berkata:

“Sesungguhnya aku senang berhias untuk isteriku sebagaimana aku senang jika isteriku berhias untukku.”

Tambahan pula ALLAH menyukai keindahan termasuklah penampilan diri yang menarik serta sesuai dengan lunas-lunas syarak sebagaimana sabda Nabi s.a.w:

"Sesungguhnya ALLAH itu Maha Indah dan menyukai keindahan." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 91.

Rentetan dari ini maka para suami hendaklah berusaha kelihatan bergaya sehingga sedap mata isteri memandang ke arahnya.

Suami Hendaklah Sabar Melayani Karenah Isteri

Perempuan memang terkenal dengan sikap emosional dan suka ikut perasaan. Namun, para suami harus sabar ketika berhadapan dengan karenah sedemikian rupa. Para suami hendaklah berhadapan dengan situasi sebegini dengan penuh kesabaran dan hikmah.

Sabda Rasulullah s.a.w:

"Nasihatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bahagian terbengkok dari tulang rusuk adalah bahagian atasnya. Seandainya kamu meluruskannya bererti kamu mematahkannya dan seandainya kamu biarkan maka ia akan terus membengkok. Untuk itu, nasihatilah wanita dengan baik." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 5186.

Hadis ini menganjurkan para suami menasihati para isteri dengan cara yang penuh hikmah dan lemah lembut. Jangan sesekali terburu-buru menggunakan kekerasan kerana ia bukan sahaja tidak mampu menyelesaikan permasalahan malah akan memburukkan lagi keadaan.

Oleh itu, para suami haruslah bijak mencari masa paling baik untuk menasihati isterinya. Sekiranya keadaan tidak mengizinkan seperti ketika kemarahan isteri masih meluap-luap, sebaik-baiknya ditangguh dahulu penjelasan ataupun menasihatinya sehingga kondisi menjadi tenang dan tenteram.
Sekiranya wujud di dalam diri isteri sifat-sifat yang kurang disenangi maka kita handaklah mencari sifat serta tabiat isteri yang positif untuk menghiburkan diri kita dan berusaha melenyapkan perasaan benci terhadap isteri.

Sabda Rasulullah s.a.w:

"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Apabila dia membenci sebahagian akhlaknya maka mungkin dia boleh meredhai akhlaknya yang lain." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1469.

Sekiranya terdapat perbuatan isteri yang memerlukan para suami untuk meluruskannya maka ia hendaklah dilakukan secara bertahap-tahap dan tidak terburu-buru untuk berkeras terhadapnya.

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan perbuatan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka dan (jika mereka berdegil) pulaukanlah mereka di tempat tidur, (kalau mereka masih juga degil) pukullah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya). Kemudian jika mereka taat kepada kamu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya ALLAH Maha Tinggi lagi Maha Besar." – Surah al-Nisa’: 34.

Jika suami telah melihat tanda-tanda penderhakaan wujud pada isterinya, dia hendaklah menasihatinya dengan mengingatkannya tentang hukuman ALLAH terhadap tingkahlakunya itu. Sekiranya setelah menasihatinya tetapi dia masih tidak berubah, suami berhak memisahkan tempat tidur dan tidak menggaulinya (Hajr).

Apabila hajr juga gagal untuk menyedarkan isteri akan kesilapannya, suami hendaklah memberi pelajaran kepada isteri dengan memukulnya dengan pukulan yang tidak menyakitkan seperti dengan menggunakan kayu siwak (kayu yang digunakan untuk memberus gigi) atau sejenisnya. Inilah tatacara yang telah ditetapkan oleh ALLAH untuk menangani sikap-sikap negatif yang mungkin wujud pada para isteri.

Kewajipan Suami Menyediakan Rumah Untuk Isteri

Menyediakan tempat perlindungan untuk isteri dan anak-anak merupakan kewajipan seorang suami. Ia amat penting dalam membentuk sebuah keluarga yang harmonis kerana rumah adalah tempat sepasang suami isteri memainkan peranan masing-masing dan membesar serta mendidik anak-anak.

Firman ALLAH S.W.T:

"Tempatkanlah isteri-isteri (yang menjalani idahnya) itu di tempat kediaman kamu sesuai dengan kemampuan kamu." – Surah al-Talaq: 6.

Walaupun ayat di atas merujuk kepada isteri yang telah dicerai dan berada di dalam tempoh idah namun ini sebenarnya hanya menguatkan lagi pandangan bahawa isteri yang masih dalam status pernikahan lebih berhak mendapatkan tempat tinggal daripada suami.
Tentang saiz serta reka bentuk rumah, ia bergantung kepada kemampuan para suami.

Firman ALLAH S.W.T:

"Tidaklah diberatkan seseorang melainkan menurut kemampuannya." – Surah al-Baqarah: 233.

Bagi suami yang memiliki sedikit harta, dapatkanlah rumah bersaiz kecil yang sesuai dengan kemampuannya itu. Sekiranya di masa hadapan harta semakin bertambah banyak, ketika itu usahakan untuk mendapatkan rumah yang lebih besar.
Seorang isteri juga berhak mendapatkan rumah yang khusus bagi dirinya tanpa berkongsi dengan madu-madunya mahupun ahli keluarga yang lain. Isteri berhak menolak permintaan suami untuk tinggal bersama madu-madunya ataupun ahli keluarga yang lain dan suami wajib memenuhi tuntutan tersebut.
Penolakan isteri itu berkemungkinan menunjukkan dia merasa tidak selesa dengan situasi tersebut ataupun mungkin ada perkara-perkara yang boleh menyebabkan suasana yang tegang dalam rumahtangga sekiranya duduk bersama dengan pihak lain.


Inilah beberapa peranan suami menurut al-Quran dan sunnah Nabi s.a.w yang dapat dijadikan tauladan membina sebuah keluarga yang harmonis. Semoga ia dapat dijadikan pedoman bagi seluruh pemimpin keluarga untuk membahagiakan para isteri mereka. Contohilah sunnah Nabi s.a.w kerana pada diri baginda terdapat contoh tauladan yang terbaik.

Firman ALLAH S.W.T:

"Demi sesungguhnya, bagi kamu pada diri Rasulullah itu terdapat contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) ALLAH dan (balasan baik) di hari akhirat serta dia sentiasa menyebut dan mengingati ALLAH sebanyak mungkin (di waktu susah dan senang)." – Surah al-Ahzab: 21.

Sufyan bin ‘Uyainah r.h berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah adalah timbangan yang paling besar. Segala sesuatu harus diukur dengan akhlak, perilaku dan petunjuknya. Yang sesuai dengannya, maka itu benar dan yang tidak sesuai dengannya maka ia bererti batil.”

Isnin, Mac 16, 2009

20 Persoalan Mazhab

oleh Bro Rahmat a.k.a Bro Rahmat Deedat

1. Semua mazhab adalah untuk membawa Muslim dekat kepada sunnah?

2. Semua mazhab adalah untuk mempermudahkan orang awam yang tiada keupaayan untuk hidup beragama?

3. Jika semua mazhab mempunyai tujuan yang sama mengapa perlu berpegang kepada satu mazhab sahaja?

4. Imam-imam tersebut tidak pernah mengatakan pengikut mazhab itu perlu bertaqlid kepada satu mazhab sahaja.

5. Jika masing-masing ada pendapat dan pendapat tersebut sudah tentu untuk membawa orang awam (yang kurang faham kepada agama), maka kenapa perlu bertaqlid kepada satu mazhab sahaja?

6. Jika pendapat mazhab A lebih kuat daripada pendapat mazhab B (contoh dalam hal X) adakah boleh saya mengikut pendapat mazhab A?

7. Jika boleh mengikut pendapat mazhab A, sedangkan mazhab yang diarahkan untuk diikuti di Malaysia adalah mazhab B, bagaimana? Adakah satu kesalahan jika saya mengikut pendapat mazhab A?

8. Jika tidak boleh mengikut pendapat mazhab A, sedangkan pendapat mazhab A lebih kuat bukankah itu menjauhkan diri daripada sunnah yang sahih?

9. Buku-buku seperti Fiqh Perundangan Islam atau Fiqh Sunnah telah ditulis untuk mempermudahkan orang awam membaca dan memahami setiap mazhab. Mana timbul susah untuk memahami mazhab lagi?

10. Betulkah terlalu sukar untuk mencari pendapat yang lebih kuat sedangkan buku-buku tulisan ulama silam dan orang yang arif berada disekeliling kita hari ini? Atau kita sebenarnya ditakut-takutkan dalam hal ini?

11. Jika semua mazhab mempunyai pendapat masing-masing dan pendapat mazhab-mazhab ini adalah betul, kenapa timbul larangan untuk memilih pendapat yang lebih kuat. Jika pendapat-pendapat semua mazhab ini adalah benar maka tidak kiralah pendapat mana yang dipegang, ianya masih benar and menurut Islam. Yang membezakan hanyalah pendapat itu kuat atau tidak. Adakah usaha untuk memegang pendapat lebih kuat dan mendekatkan diri dengan sunnah adalah satu kesalahan?

12. Adakah sebenarnya secara tidak sedar, kita telah menyusahkan Islam yang mudah itu? Dimanakah status Islam sebagai agama yang mengutamakn ilmu dan hujah jika ilmu dan hujah tidak diambil kira hanya kerana kita disuruh bertaqlid kepada satu mazhab sahaja?

13. Jika kita adalah pengikut mazhab A. Maka kita perlu menghormati apa yang dikatakan oleh Imam A. Jika Imam A mengatakan ikutlah pendapat yang lebih kuat yang berpandukan hadith sahih, kenapa kita tidak lakukan arahan yang disuruh jika benar kita menghormati Imam A?

14. Jika kita disuruh bertaqlid di dalam hal yang melibatkan masyarakat (cth: perbankan, zakat, nikah), maka saya faham kenapa kita perlu disatukan di bawah satu mazhab. Tetapi jika hal itu hanya melibatkan saya seorang, kenapa turut dilarang?

15. Adakah bertaqlid dengan satu mazhab bertujuan hendak mengelak khilaf?

16. Jika wujud perbezaan pendapat antara mazhab A atau B, sedangkan mazhab A dan B adalah betul kedua-duanya, apa yang perlu dirisaukan tentang isu khilaf ini?

17. Mazhab bermaksud 'jalan'. Setiap jalan itu membawa kepada Islam yang tulen. Objektif masih Islam, tetapi jalan yang berbeza tidak mengapa kerana setiap jalan masih berpandukan dalil yang membawa kepada Islam. Adakah salah memilih jalan yang berlainan? Yang membezakan samada jalan itu 'lebih dekat' (lebih kuat) untuk sampai ke destinasi.

18. Jika saya mengikut juga mazhab lain dalam sesuatu perkara setelah disiasat dan diteliti dengan betul, adakah saya masih Islam? Jika masih lagi Islam kenapa timbul larangan begitu keras? Dimanakah fleksibiliti Islam yang berpandukan ilmu yang sahih?

19, Jika ini tidak dinamakan sebagai tertutup (rigid), maka apakah larangan keras ini sebenarnya? Jika setiap manusia dibenarkan untuk memilih agama, tetapi disuruh untuk memilih agama yang benar maka Islamlah jawapannya. Di dalam hal bermazhab, mengapa tidak dilakukan demikian. Mencari pendapat yang lebih kuat, kerana semua pendapat adalah benar. Adakah salah untuk mencari pendapat yang lebih kuat?

20. Senaraikan apakah sebenarnya sebab yang melarang saya untuk berbuat demikian? Perlu diingatkan, ini bukanlah senang-lenang bertukar mazhab.

Rabu, Mac 11, 2009

Kesalahan-Kesalahan dalam Hubungan Suami-Isteri

Oleh: Muhammad Asrie bin Sobri

Islam mensyariatkan perkahwinan dan menjadikan perkahwinan itu sebagai pagar pemelihara kesucian nasab keturunan manusia. Firman Allah s.w.t:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Maksudnya: “dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa ia menciptakan untuk kamu (Wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir”. [al-Rum: 21]

Maksud “al-Mawaddah” dalam ayat ini adalah jimak atau hubungan seks sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibn Abbas r.a, Mujahid, dan Qatadah manakala “al-Rahmah” pula menurut mereka adalah anak-anak.

Maka Allah s.w.t meletakkan hubungan intim antara suami isteri sebagai satu perkara penting dalam alam perkahwinan bahkan menjadi pengikat utama antara suami isteri kerana hanya melalui perkahwinan sahaja seseorang manusia dihalalkan melakukan hubungan seks yang merupakan antara syahwat terbesar manusia demikian melalui hubungan seks jua lahirnya keturunan dan zuriat umat manusia.

Oleh itu, amat penting bagi pasangan suami isteri untuk melakukan hubungan seks sesuai dengan kehendak syariat dan sunnah Nabi s.a.w. Maka di sini saya ingin menyentuh beberapa kesalahan yang terjadi dalam perkara ini:

Pertama: Melihat Hubungan Seks sebagai Adat atau Tuntutan Nafsu Sahaja.

Apabila hendak melakukan hubungan seks, suami isteri perlu faham bahawa apa yang bakal mereka lakukan adalah satu ibadah kerana sabda Nabi s.a.w:

وفي بضع أحدكم صدقة

Maksudnya: “dan pada kemaluan seseorang kamu (digunakan untuk menjimak isterinya) adalah sedekah”. [Muslim & Ahmad].

Daripada hadis ini ulama telah bersetuju, hubungan seks antara suami isteri adalah ibadah dan diberi pahala atasnya. Hukumnya pula adalah wajib antara suami isteri yang memerlukannya. Dalilnya adalah sabda Nabi s.a.w:

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت أن تجيء لعنتها الملائكة حتى تصبح

Maksudnya: “Apabila seorang suami memanggil isterinya ke tempat tidur lalu dia (isteri) enggan maka dia akan dilaknat malaikat sehingga pagi”. [al-Bukhari & Muslim].

Maka apabila seorang isteri dipanggil suami untuk bermesra maka wajib dia datang walaupun dalam keadaan haid kerana wanita yang haid masih boleh bermesra dengan suaminya selama tidak melakukan seks penetretif berdasarkan sabda Nabi s.a.w:

اصنعوا كل شيء إلا النكاح

Maksudnya: “Buatlah semuanya kecuali nikah” [Muslim & Ahmad].

Maksudnya boleh suami bermesra dengan isterinya yang haid dan nifas selama dia menjauhi tempat keluarnya darah.

Demikian juga hadis ini walaupun menunjukkan kepada wanita tetapi masuk juga kepada suami apabila isterinya mengajak kepada hubungan wajiblah dia penuhi kerana hadis:

وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Maksudnya: “dan sesungguhnya isterimu mempunyai hak ke atasmu”. [al-Bukhari].

Para ulama berbeza pendapat berapa kali wajib melakukan hubungan seks itu, ada yang berpendapat setahun 3 kali sekurang-kurangnya, ada yang menyatakan 4 hari sekali, dan ada yang menyatakan setiap kali isternya suci daripada haid hendaklah dilakukan sekali (yakni sebulan sekali). Namun, yang zahir adalah wajib menurut keperluan setiap pasangan itu sendiri.

Kedua: Meninggalkan Doa Sebelum Jimak

Telah sabit dalam sunnah Nabi s.a.w hendaklah membaca doa khas yang diajar Nabi s.a.w sebelum melakukan jimak iaitu:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Maksudnya: “Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah Syaitan daripada kami dan jauhkanlah Syaitan daripada apa yang Engkau berikan kepada kami (anak)”.

Doa ini sabit dalam Sahih al-Bukhari dan lainnya serta membacanya memberi faedah yang besar iaitu mengelakkan syaitan daripada turut campur serta dalam hubungan seks mereka yang mana jika syaitan turut campur serta akan mengakibatkan terhasilnya zuriat yang jelik pada akhlaknya.

Demikian juga bagi pengantin baharu, apabila hendak melakukan hubungan seks buat kali pertama, hendaklah suami memegang ubun-ubun isterinya lalu membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا ، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ َشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Maksudnya: “Ya Allah, aku bermohon kepadamu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan padanya dan aku berlindung padaMu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau ciptakan padanya”. [Abu Daud, Ibn Majah-sahih-].

Doa ini juga sunat dibaca apabila kita membeli kenderaan baru atau khadam baharu dan seumpamanya.

Ketiga: Menambah Doa dan Zikir yang Tiada Asal dalam Syariat

Terdapat juga pihak-pihak yang menulis dan mengarang buku panduan hubungan suami isteri menyenaraikan doa dan zikir yang tiada asal usul dalam syariat, tidak bersumber kepada hadis-hadis yang sahih.

Tindakan ini amat bertentangan dengan sabda Nabi s.a.w:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Maksudnya: “Sesiapa yang mereka cipta perkara baharu dalam urusan (agama) kami ini maka (amalan itu) tertolak”. [al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibn Majah, dan Ahmad].

Zikir dan bacaan doa khas adalah ibadat khas yang mesti bersumber daripada Rasulullah s.a.w tidak boleh direka-reka, maka perbuatan menambah-nambah bacaan seperti selawat sewaktu menyentuh bahagian tertentu daripada badan isteri, menyebut Asmaul Husna ketika hendak menyentuh atau mencium anggota tertentu adalah bidaah dolalah.

Keempat: Kepercayaan Larangan Melihat Kemaluan Suami Isteri

Tidak dinafikan ada pendapat sesetengah ulama yang menyatakan haram atau makruh melihat kemaluan antara suami isteri, bahkan ada yang beriktikad melihat kemaluan ini akan menjadikan anak buta atau cacat tetapi kepercayaan ini tidak dapat diterima sama sekali kerana ia berdasarkan hadis palsu yang berbunyi:

النظر إلى الفرج يورث الطمس

Maksudnya: “Melihat kepada kemaluan itu mewariskan buta”.

Dan hadis:

إذا جامع أحدكم زوجته أو جاريته فلا ينظر إلى فرجها فإن ذلك يورث العمى

Maksudnya: “Apabila salah seorang kamu menjimak isterinya atau jariahnya janganlah melihat kepada kemaluannya kerana itu mewariskan buta”.

Hadis-hadis ini adalah mauduk, yakni palsu [Lihat: al-Maudu'at, 2/271].

Adapun hadis:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيَسْتَتِرْ وَلاَ يَتَجَرَّدْ تَجَرُّدَ الْعَيْرَيْنِ

Maksudnya: “Apabila seseorang kamu mendatangi isterinya maka hendaklah dia menutup (auratnya) dan janganlah berbogel seperti keldai”. [Ibn Majah]

Hadis ini daif sebagaimana dijelaskan al-Busairi r.h dalam al-Zawaid demikian juga al-Albani r.h dalam tahkik beliau terhadap Sunan Ibn Majah.

Demikian juga hadis Aisyah r.a katanya:

ما نظرت أو ما رأيت فرج رسول الله صلى الله عليه و سلم قط

Maksudnya: “Aku tidak pernah sama sekali melihat kemaluan Rasulullah s.a.w”. [Ibn Majah & Ahmad].

Hadis ini juga daif sebagaimana sepakat antara al-Busairi, al-Albani dan al-Arnauth.

Bahkan telah sepakat para ulama harus bahkan mustahab suami isteri saling pegang memegang kemaluan mereka untuk menambahkan keghairahan dalam hubungan. Imam Abu Hanifah r.h ditanya berkenaan hukum suami isteri saling memegang kemaluan antara mereka untuk menaikkan syahwat adakah salah? Maka beliau menjawab:

لاَ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ الأَْجْرُ

Maksudnya: “Tidak menjadi kesalahan, bahkan aku berharap digandakan pahala bagi keduanya”. [al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 32/90].

Imam Malik r.h pula berfatwa:

لا بأس أن ينظر إلى الفرج في حال الجماع وزاد في رواية ويلحسه بلسانه

Maksudnya: “Tidak ada salahnya untuk dia melihat kemaluan isterinya semasa jimak”. Dalam riwayat lain menambah: “dan harus dia menjilatnya dengan lidahnya”. [Mawahib al-Jalil, 3/406]

Demikian juga dalam I’anah al-Tolibin, kitab fiqah Syafii menyatakan harus seorang suami beristimta’ (bersenang-senang) dengan seluruh tubuh isterinya termasuk menjilat klitoris tetapi dijauhi halaqah dubur. [I'anah al-Tolibin, 3/340]. Ini menunjukkan harusnya melihat kemaluan antara suami isteri. Dasar keharusan ini adalah sabda Nabi s.a.w:

احفظ عورتك إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك

Maksudnya: “Jagalah auratmu kecuali daripada isterimu atau hamba sahayamu”. [Abu Daud, al-Tarmizi, Ibn Majah, dan Ahmad serta ianya hasan].

Kelima: Merakam Aksi Seks dan Melihat Filem Porno untuk Ransangan

Antara seburuk-buruk kesalahan yang berlaku adalah merakam aksi seks yang dilakukan antara suami isteri. Jika yang merakam tersebut pihak ketiga maka keharaman dan kehinaannya amat jelas, demikian juga yang merakam itu suami isteri sendiri walaupun dengan alasan simpanan peribadi kerana tidak aman daripada rakaman itu terlepas ke tangan manusia lain paling kurang ahli rumahnya.

Telah sepakat ulama haram seseorang melakukan jimak dalam keadaan dilihat orang lain atau di tempat yang memungkinkan dilihat orang pada kebiasaannya dan sebahagian ulama memakruhkan jimak dalam bilik yang ada bayi kecil sekalipun.

Demikian juga perbuatan melihat filem porno untuk merangsang kerana matlamat tidak menghalalkan cara. Telah maklum bahawa haram melihat aurat manusia lain sebagaimana firman Allah s.w.t dalam surah al-Nur ayat 30 dan 31:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ…

Maksudnya: “Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang mereka kerjakan. dan Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka…”

dan sabda Nabi s.a.w:

لا ينظر الرجل إلى عورة الرجل ولا المرأة إلى عورة المرأة

Maksudnya: “Tidak boleh seorang lelaki memandang aurat lelaki yang lain dan seorang wanita memandang aurat wanita yang lain…”[Muslim].

Maka memandang aurat berlawanan jenis tentu lebih haram lagi.

Keenam: Tidak Melakukan Muqaddimah

Sabda Nabi s.a.w:

” لا يقعن أحدكم على امرأته كما تقع البهيمة ليكن بينهما رسول ، قيل ما الرسول ؟ قال : القبلة والكلمة “

Maksudnya: “Janganlah seseorang kamu menjimak isterinya seperti haiwan, hendaklah ada antara antara kedunya utusan”. Sahabat bertanya: “Apakah utusan itu?” Jawab Nabi s.a.w: “Ciuman dan ucapan”. [al-Baihaqi].

Daripada hadis ini, menjadi sunnah untuk suami isteri melakukan muqaddimah jimak seperti bercumbu rayu dan melakukan foreplay. Tindakan meninggalkan cumbu rayu ini menyebabkan amalan jimak tadi terpesong daripada sunnah Nabi s.a.w.

Ketujuh: Memecahkan Dara dengan Jari

Antara perkara bidaah yang berlaku dalam masyarakat arab adalah memecahkan dara dengan jari sebelum si isteri masuk ke kamar suami untuk menjadi bukti isterinya masih dara. [Mukjam al-Bida', 84].

Demikian juga jika si suami memecahkan dengan jari semasa persetubuhan kerana seorang wanita itu mungkin telah terkoyak selaput daranya kerana terjatuh, banyak berjalan atau berlari, dan mungkin sahaja kerana kedatangan haid yang berat (heavy period). Tindakan suami memecahkan dara dengan jari akan mendatangkan rasa tidak senang jika tiba-tiba tiada darah yang keluar dan ini membuka jalan syaitan untuk menimbulkan syak wsangka pada suami terhadap isterinya. Wallahua’lam.

Kelapan: Melakukan Seks dalam Keadaan Tidak Sihat Tubuh Badan

Tidak ada tegahan syarak melakukan seks semasa suami atau isteri dalam keadaan kurang sihat seperti demam, selsema dan sebagainya tetapi secara ilmiahnya, ilmu Psikologi menetapkan perkara ini akan memberi kesan kepada anak yang terhasil semasa perhubungan tersebut.

Kondisi anak yang terhasil daripada persetubuhan semasa tubuh kurang sihat adalah lemah dan kurang daya tahan. Jadi hendaklah dielakkan melakukan seks penetratif dalam keadaan tubuh kurang sihat.

Kesembilan: Suami Tidak Menanti Isteri di Kemuncak

Hendaklah suami jangan menyudahkan hubungan sehingga isterinya juga mencapai orgasme kerana sabda Nabi s.a.w:

إذا أتى أحدكم أهله فليصدقها فإن سبقها فلا يعجلها

Maksudnya: “Apabila seseorang kamu mendatangi (menjimak) isterinya maka berilah dia sedekah jika dia (si suami) mendahuluinya (si isteri) maka janganlah dia tergesa-gesa”. [Abu Yakla, daif].

Hadis ini daif tidak menjadi hujah namun secara ilmiahnya diketahui bahawa membiarkan isteri tidak mencapai kepuasan adalah satu kezaliman dan melanggar umum perintah Allah s.w.t:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Maksudnya: “dan bergaullah dengan mereka (para isteri) dengan baik..” [al-Nisaa: 19].

Kesepuluh: Menyebarkan Rahsia Kamar

Amat jelik sekali akhlak mereka yang mendedahkan rahsia kamar tidur antara suami isteri kepada orang luar walau kepada ibu bapa sendiri sekalipun. Dalam hadis menyatakan:

إن من شر الناس منزلة الرجل يفضي إلى المرأة وتفضي إليه، ثم يصبح يتحدث بما جرى بينهما

Maksudnya: “Sesungguhnya seteruk-teruk manusia kedudukannya adalah seorang lelaki yang menyetubhi isterinya kemudian dia menceritakannya pada waktu paginya”. [Muslim].

Maka haram hukumnya menyebarkan rahsia kamar tidur kecuali dengan tujuan perubatan atau memohon fatwa dan seumpamanya daripada maslahat yang mendesak. [Maza Taf'al Lailatal Bina', 28].


Maka demikianlah sebahagian kesalahan yang berlaku dalam hubungan intim suami isteri dan perlu diperbetulkan oleh setiap pasangan suami isteri yang inginkan hubungan intim mereka berlaku sesuai dengan panduan syariat Islam yang suci.

Perlu diketahui, persetubuhan merupakan langkah pertama dalam rangka membentuk seorang anak, maka amat wajar pembentukan anak itu dilakukan dengan cermat menurut garis panduan syariat dan janganlah menjadikan seks semata-mata untuk melampiaskan nafsu tetapi jadikanlah sebagai ibadah yang mudah-mudahan dengannya kita mendapat reda Allah s.w.t.

Isnin, Mac 09, 2009

Amalan yang disangka baik


Muhammad Fakhruddin Ismail

Jika dilihat ramai dikalangan umat islam terikut-ikut dengan budaya hidup orang lain malah kadang-kadang kita akan dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan seperti mana yang dituntut dalam Islam. Diantaranya adalah seperti berikut:

1. Kenduri Arwah

Amalan kenduri arwah beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga simati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan jiran tetangga memasak makanan untuk keluarga simati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka. Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyediakan makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim peninggalan simati yang belum dibahagikan kepada yang berhak menurut islam?

2. Kenduri Kahwin

Kalau hadir ke kenduri walimatul urus (kenduri kahwin) orang kerap Assalamu’alaikum berisi (hadiah wang yang dibei semasa bersalam).Kalau tak ada duit nak dikepit dalam tangan, maka segan ia nak pergi makan kenduri. Tetapi kalau ia menziarahi orang mati, tidak segan pula Assalamua’alaikum tak berisi. Sepatutnya kalau menziarahi keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke kenduri kahwin, tak bagi pun tak pa kerana tuan rumah panggil untuk diberi makan bukan untuk ia menambah pendapatan.

3. Pakaian Cantik

Ketika menghadiri majlis pemimpin negara kita berpakaian cantik kemas dan segak tetapi bila mengadap Allah baik di rumah maupun di masjid, pakain lebih kurang saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini sesuatu perbuatan yang terbalik.

4. Jadi Tetamu

Kalau menjadi tetamu di rumah orang dan di beri jamuan, kita rasa segan nak makan sampai habis apa yang dihidangkan kerana rasa segan dan malu, sedangkan yang dituntut dibanyakkan makan dan dihabiskan apa yang dihidangkan supaya tuan rumah rasa gembira dan tidak membazir.

5. Solat Sunat

Kalau bersolat sunat di masjid amat rajin, tapi kalau di rumah, sangat malas. Sedangkan sebaik-baiknya solat sunat banyak dilakukan di rumah seperti dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengelakkan rasa riak.

6. Bulan Puasa

Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahawa dalam carta perbelanjaan setiap rumah orang islam akan kita dapati perbelanjaan di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan sepatutnya perbelanjaan di bulan puasa yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Pergi Haji

Kalau nak mengerjakan haji, kebanyakan orang akan membuat kenduri sebelum bertolak ke Mekah dan apabila balik dari Mekah tak buat kenduri pun. Anjuran berkenduri dalam islam antaranya ialah kerana selamat dari bermusaffir, maka dibuat kenduri. Bukankah amalan ini terbalik? Atau kita mempunyai tujuan lain. Dan sepatutnya oang yang hendak mengerjakan haji yang menziarahi orang ramai, bukannya orang ramai mennziarahi orang yang nak pergi haji.

8. Pelajaran Anak

Semua ibubapa amat bimbang kalau-kalau anak mereka gagal dalam periksa. Maka dihantarlah ke kelas tuisyen walaupun banyak belanjanya. Tapi kalau anak tak boleh baca Quran atau solat, tak bimbang pula bahkan tak mahu hantar tuisyen baca Quran atau kelas khas mempelajari islam. Kalau guru tuisyen sanggup dibayar sebulan RM20.00 satu pelajaran 8 kali hadir tapi kepada Tok Guru Quran nak bayar RM15.00 sebulan 20 kali hadir belajar pun menggeletar tangan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih berbimbang jika anak tidak dapat baca Al-Quran atau bersolat dan tidak lulus periksa.

9. Pergi Masjid

Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak kira siang malam, pagi petang, mesti pergi kerja. Hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tak hujan, tak panas, tak ribut pun tetap tak datang ke masjid. Sungguh tak malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi nak ke rumahNya segan dan malas.

10. Isteri Berhias

Seorang isteri kalau nak keluar rumah samada dengan suami atau tidak, bukan main lagi berhias. Tetapi kalau duduk di rumah, masyaAllah.
Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumahtangga kurang bahagia.

Cukup dengan contoh-contoh di atas. Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya. Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenar bukan yang digubah mengikut selera kita. Allah yang mencipta kita maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita.


Syahadah “ Media Untuk Kesejahteraan Ummah” –November 2008

Selasa, Mac 03, 2009

Perlukah Manusia Kepada Tuhan?

Perlukah Manusia Kepada Tuhan?

sumber : SaifulIslam.Com


“Kalau kamu setuju bahawa kamu perlukan Tuhan dalam hidup ini, baru saya boleh jelaskan mengapa kamu kena solat. Jika kamu setuju bahawa kamu perlu bersolat kerana kamu perlukan Tuhan dalam hidup ini, baru saya boleh jawab soalan mengapa kamu kena pakai tudung!”, itu penjelasan yang sering saya ulang di dalam ceramah, ketika mengulas perbualan saya bersama dengan dua remaja yang memaksa saya memerah diri untuk membezakan di antara presented problem dengan real problem.

Masalah yang kelihatan ialah dirinya enggan memakai tudung, enggan bersolat, mahu membela anjing di rumah dan benci kepada JAIS yang menangkap artis di The Zouq, Jalan Ampang.

Tetapi masalah yang lebih besar, adalah kegagalan beliau melihat, apakah beliau perlu kepada Tuhan dalam hidup ini? Justeru masih relevankah agama dalam saki baki kehidupan dunia akhir zaman ini?

Jika persoalan “perlukah manusia kepada Tuhan” tidak diselesaikan, kita mahu membebel marahkan orang yang enggan bersolat, kita mahu menyuruhnya bersolat untuk menyembah apa? Menyembah siapa?

Seandainya hal ini tidak selesai, segala nasihat tentang tudung, aurat, berpakaian sopan dan sebagainya… adalah seumpama bunyi motor rempit melintas jalan di depan rumah. Mengganggu ketenteraman awam, dan menyakitkan telinga.

Cabaran terbesar bagi saya sebagai seorang pendakwah, adalah untuk mengajak manusia berfikir, “perlukah mereka kepada Tuhan?” Itulah sebesar-besar persoalan yang mesti diselesaikan, sebelum segala wacana agama mahu diketengahkan.

Sekurang-kurangnya Sheikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri telah memulakan kitabnya bertajuk Aqidah al-Mu’min, dengan topik, “Keperluan Manusia Kepada Aqidah”. Persoalan mengapa manusia perlu kepada agama, didahulukan sebelum aspek-aspek lain diketengahkan untuk perbahasan.

Namun sejauh mana pendakwah menghalusi keperluan menyelesaikan soalan ini seperti yang ditunjukkan oleh Sheikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri, sebelum dengan mudah kita berbahasa klise, “Aqidah Itu Penyelesaian”?

Inilah isu yang memaksa saya untuk meneliti persoalan-persoalan asas tersebut, kerana saya amat terganggu dengan hakikat semasa bahawa manusia sudah terputus talian dengan Tuhan. Jika di era hidup yang serba susah, kita menyuruh manusia beriman kepada Tuhan demi mencari kekuatan, ia tidak rumit. Tetapi dalam suasana kehidupan manusia yang serba ada pada hari ini, bagaimanakah Tuhan dan Akhirat, masih relevan?



Saya suka meminjam sebahagian pengalaman Rene Descarte (1596 - 1650) dalam usahanya membina asas kebenaran. Bersekolah di Jesuit School La Flêche, beliau menghabiskan pengajian dengan soalan paling besar, “apakah apa yang kupelajari selama ini, adalah benar?”

Alangkah segarnya diri, untuk menghumban segala ilmu yang dikumpul di atas segulung ijazah, dan kemudian membina semula kepercayaan hasil pilihan, bukan lagi sumbatan, warisan dan indoktrinasi yang melesu lagi merabunkan.

Lantas beliau mula mempertikaikan segala apa yang dipelajarinya selama ini, meragui segala-galanya hingga akhirnya Descarte tiba kepada asas yang paling kukuh, yang tidak mungkin ada sebarang keraguan… iaitulah hakikat diri!

Beliau tidak dapat meragui dirinya kerana beliau dapat merasakan bahawa dirinya adalah realiti, bukan ilusi. Beliau dapat memastikan dirinya realiti, kerana beliau melakukan sesuatu yang penting iaitu BERFIKIR. Berfikir menjadikan dirinya realiti, dan bukan bermimpi, jauh sekali berilusi. Lantas terpacul kata-katanya yang masyhur:


Dubito, ergo cogito, ergo sum!

“Aku meragui, lantas kuberfikir. Aku berfikir, lantas kutemui diri”

Itu cara Descarte mencari kebenaran untuk dirinya. Rasional sekali, memulakan kembara dengan mengenal pasti diri. Berfikir lalu bertemu diri.


Jalan membina kepercayaan harus terbina di atas usaha manusia mengenal diri. Itulah asasnya agama kita mengajar:


“Barangsiapa yang kenal akan dirinya, maka kenallah dia akan Tuhannya” [sila rujuk komen ke-13 di bawah untuk keterangan mengenai qaul ini]

Kenal Tuhan melalui jalan Kenal Diri…

Itulah kuncinya untuk manusia kembali menjalin hubungan dengan Tuhan. Iaitu hasil keupayaan mengenal diri. Soalnya ialah, apakah aspek diri yang mahu dicari?

Manusia yang meneroka diri, akan bertemu dengan dua realiti. Setiap insan, mempunyai kekuatan dan kelemahan. Kekuatan dan kelemahan inilah yang mesti dikenal pasti, untuk manusia meneroka dan mengenal diri.

Manusia yang sedar bahawa hidupnya harus berperanan akan memaksa diri untuk mencari potensi. Semuanya atas keyakinan bahawa tiada manusia yang lahir dengan asal kebodohan, sebaliknya setiap insan lahir dengan kepandaian-kepandaian yang berbeza.

Apa yang membodohkan seorang manusia adalah segala yang ada di sekitarnya. Mungkin ibu bapa, malah mungkin juga guru dan sekolah itu sendiri. Sekolah tidak sepatutnya melahirkan pelajar yang pandai dan bodoh. Sebaliknya sekolah harus melahirkan pelajar yang berbeza-beza kepandaian. Tugas sistem pendidikan adalah untuk meneroka potensi kelebihan setiap pelajar, bukan mengasingkan pelajar yang tidak mengikut bentuk kepandaian yang diselaraskan.

Tetapi manusia tidak akan dapat mengenal pasti kelebihan diri jika dia hidup ala kadar. Kerja ala kadar. Berfikir ala kadar.

“Buat kerja betul, betul-betul!”, kata bijak pandai.

Mengusahakan sesuatu secara bersungguh-sungguh akan mempercepatkan manusia menggunakan segala kekuatan dan kelebihan diri. Setelah segala kekuatan diri dikenal pasti, bertemulah dia dengan batasan dan kelemahan diri.

Itulah jalan saintis bertemu Tuhan. Baginya sains bukan sekadar penerokaan peluang, tetapi akuran terhadap batasan mutlak di kiri dan kanan. Batasan itu bukan berpunca dari alam yang kelihatan, tetapi dari diri yang terlalu kerdil untuk menggarapnya.

Itulah akibatnya meneroka angkasa lepas, bahawa manusia dan Sains, terlalu kerdil untuk menawarkan jawapan kepada persoalan alam. Kebanyakan yang kita fahami tentang angkasa, adalah tafsiran data dan jauh dari kesan pengalaman. Data yang membuktikan kesempurnaan sistem alam, dan kelemahan penghuninya yang bernama manusia.

Saintis menjadi manusia yang lemah dan terbatas, di hadapan kesempurnaan sistem yang dibuktikan, kesempurnaan Tuhan.


Allah berikan manusia kelebihan untuk kita berperanan.

Allah berikan manusia kelemahan untuk kita mencari Dia.

Manusia tidak mampu sentiasa kenyang. Dia akan lapar. Dan kelaparan itu mendesak dirinya mencari makanan. Hasil makanan, kelemahannya dapat diatasi. Buat sementara.

Manusia tidak mampu untuk sentiasa segar. Dia akan letih dan mengantuk. Tanpa perlu diajar-ajar, keletihan dan mengantuk itu mendesak dirinya untuk mencari kerehatan. Hasil kerehatan, manusia memulihkan kekuatan. Buat seketika.

Itu kelemahan fizikal manusia. Tanpa perlu diajar-ajar, kelemahan itu memandu manusia kepada sumber kekuatan untuk mengatasinya. Kelemahan yang muncul dalam bentuk kelaparan, mendesak manusia mencari kekuatan melalui makan. Kelemahan yang muncul dalam bentuk letih dan mengantuk, mendesak manusia mencari kekuatan melalui kerehatan dan tidur.

Kelemahan dan batasan manusia bukan hanya pada fisiologi dirinya, bahkan jiwa, emosi… rohani.

Tanpa perlu diajar-ajar, manusia yang ditindas dan dizalimi, akan merintih jiwanya mencari keadilan. Rintihan jiwa manusia yang dizalimi itu mencari keadilan, adalah jalan untuk dia bertemu dengan Tuhan. Di situ Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai YANG MAHA ADIL (AL-‘ADL).

Tanpa perlu diajar-ajar, manusia yang keresahan dan ketakutan, akan merintih jiwanya mencari keamanan dan keselamatan. Rintihan jiwa manusia yang hidup dalam keresahan dan ketakutan itu, adalah jalan untuk dia bertemu Tuhan. Di situ Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai YANG MAHA SEJAHTERA (AL-SALAM) dan YANG MAHA MENGAMANKAN (AL-MU’MIN).

Di situlah tujuan Allah SWT memperkenalkan Diri-Nya dengan 99 nama, agar setiap manusia datang kepada-Nya melalui tawaran KEKUATAN, tatkala manusia dibelenggu KELEMAHAN.


Manusia akan hanya berhajat kepada Tuhan, apabila mengiktiraf kelemahan diri. Kelemahan diri tidak akan tertonjol jika manusia tidak bersungguh mengoptimumkan upaya diri. Kesungguhan itu tidak ada jika manusia malas dan acuh tidak acuh terhadap kehidupan.


Justeru jatuhlah hukuman paling berat di alam ini, ke atas jenayah paling binasa… apabila manusia HIDUP SAMBIL LEWA dan MALAS BERFIKIR.

Malas itu DOSA kerana ia menyekat manusia dalam kewajipan mengenal diri dan mengenal Tuhan.

Manusia inilah yang menyangka dirinya tuhan…


“Tidakkah engkau perhatikan gelagat orang yang bertuhankan hawa nafsu dirinya sendiri? Dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan Dia berkeadaan demikian)? oleh itu, mengapa kamu (Wahai orang-orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?” [Al-Jatsiyah : 23]

Sedangkan hakikatnya, dia lebih sesat dari haiwan ternakan…


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk Neraka Jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya, dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya; mereka itu seperti binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al-A'raaf : 179]

Kedua-dua ayat di atas, mengaitkan hidup manusia yang bertuhankan diri, serta hidup ala-ala binatang, sebagai berpunca dari akal, mata, telinga dan hati yang tidak berfungsi. Kedua-duanya berpunca dari keengganan berfikir dan memerhati kehidupan. Diberi akal, dengan mata dan telinga untuk melihat dengan hati… tetapi kesibukan duniawi menjadikan manusia lupa siapa dirinya dan siapa DIA.

Selayaknyalah manusia yang alpa ini dihukum Tuhan kerana culas dalam mencari.



56000 Kuala Lumpur

Komen ke 13:


Saya menggunakan ayat “ISLAM MENGAJAR KITA…” kerana mahu mengelakkan perbahasan tentang qaul man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” itu. tetapi bagus jika boleh dikongsi di ruangan komen ini.

Abu Muzaffar ibn al-Sam’ani mengatakan bahawa qaul ini tidak tsabit sebagai hadith. Ia diriwayatkan dari Yahya ibn al-Muadz al-Razi, bahawa qaul ini adalah qaul Yahya. Imam an-Nawawi juga memberikan pandangan yang sama bahawa ia tidak tsabit sebagai hadith nabi saw (keterangan oleh Imam Sakhawi dalam Madasud al-hasanah).

Jika qaul ini dinisbahkan kepada Nabi SAW maka ia menjadi hadith palsu. Akan tetapi jika ia dinisbahkan kembali kepada Yahya ibn al-Muadz al-Razi, maka ia menjadi kata-kata yang memberi kebaikan. Maka janganlah disangka qaul ini sebagai Hadith dan jangan sekali-kali ia dinisbahkan kepada Nabi SAW.

Golongan Wahdatul Wujud yang ‘memanipulasi’ qaul ini, harus dilihat sebagai kesalahannya datang dari mereka dan bukan dari qaul ini.

Wallahu A’lam bi al-Sawaab